Confession of The not-so-tech Savvy girl

Ketika membahas mengenai materi minggu ini, saya sedikit bingung karena jujur saya bukan lah tipe orang yang memperhatikan perkembangan teknologi secara umum (seperti yang dapat dilihat dari judul postingan ini). Motto saya selama ini dalam menggunakan teknologi adalah gunakan yang paling sederhana, dapat memenuhi kebutuhan saya dan tidak memerlukan banyak ‘perawatan’. Oleh karena itu ketika materi minggu ini membahasa mengenai mobile platform dari smart phone, saya menyadari satu hal bahwa saya benar-benar clueless mengani teknologi-teknologi ini. Jika anda mengenal saya secara pribadi, maka anda akan menyadari bahwa saya adalah tipe orang bosenan yang hobi ganti telfon genggam tanpa alasan yang jelas. Oleh karena itulah pada postingan ini saya kembali mencoba merefleksikan mengenai smart phone yang sudah saya gunakan selama beberapa tahun belakangan ini dengan beberapa konsep baru yang saya ketahui dari hasil diskusi minggu kemarin.

 Seperti masyarakat Indonesia pada umumnya, smartphone pertama yang saya gunakan adalah Blackberry dan sampai sekarang pun saya masih menggunakan Blackberry dengan alasan kemudahan berkomunikasi dengan berbagai pihak lebih mudah dilakukan melalui BBM (Blackberry Messenger). Namun menjelang akhir tahun 2011 ketika booming iphone/android maka saya pun mengadopsi smartphone kedua yaitu iphone 4S, ketika pertamakali saya menggunakan iphone saya merasa ‘terpesona’ dengan kemampuan yang ditawarkannya, dimana didalam semua aplikasi yang saya perlukan (hint: ipod, youtube, kamera, pdf reader, safari) dapat saya akses melalui benda kotak dengan casing berwarna-warni dan layar yang nyaman untuk dipandang. Seperti yang dibahas pada diskusi kemarin, iphone dengan platform IOS merupakan termasuk kedalam lock down technology – yang dimana iphone sudah terprogram sebelumnya, sehingga penggunanya tidak dapat menambahkan software diluar dari yang sudah ‘diizinkan’ (dalam kasus ini aplikasi yang ditawarkan melalui app store dalam iphone). Berbeda dengan Android yang merupakan sebuah genartive technology – dimana para penggunanya lebih memiliki kebebasan dalam ‘memodifikasi’ atau menambahkan software pada smartphone yang dimilikinya.

 Jika dilihat dari sisi pengguna awam macam saya, kedua mobile platform ini memiliki kelebihan dan kekurangnya tersendiri. Dalam menggunakan lock down technology saya merasa bahwa pemilihan software yang bisa saya gunakan dalam hardware saya cenderung terbatas dimana kegiatan mendownload secara illegal (pirate alert) tidak memungkinkan untuk saya lakukan, walaupun begitu dengan memastikan bahwa saya tidak menginstall hal-hal asing yang dapat merusak keadaan hardware nya tersendiri. Sedangkan menggunakan generative technology – memungkinkan saya untuk mendownlaod berbagi macam software secara gratis, namun resiko untuk mengalami kerusakan hardware menurut saya sendiri cenderung lebih besar.

 Secara pribadi dalam setahun terakhir ini saya sudah pernah mencoba kedua jenis mobile platform, ketika menggunakan IOS karena masukan dari teman-teman dengan pengetahuan teknologi yang jauh lebih tinggi dibandingkan saya, mereka mengklaim  bahwa menggunakan android akan lebih mudah dan android juga memiliki banyak kemampua yang tidak dimiliki IOS, ketika saya beralih menggunakan android hal pertama yang saya lakukan adalah mendownload aplikasi download music dan video gratis, dan benar saja semua yang harus saya beli melalui itunes store pada IOS bisa saya dapatkan secara gratis melalui android. Namun setelah selama Sembilan bulan menggunakan android, smartphone saya pun menyerah karena kegiatan mendownload lagu dan video secara berlebihan yang dilakukan oleh saya, telah menyebabkan smartphone milik saya harus mengalami perawatan selama sebulan lebih.

Dari pengalaman ini saya akhirnya dapat menyimpulkan bahwa tipe orang seperti saya, pengguna teknologi awam dengan motto seperti saya memang memiliki kecocokan dengan jenis lock down technology. Hal ini menurut saya membuktikan bahwa perang IOS vs Android tidak perlu dilakukan, karena pada dasarnya seperti yang dikatakan oleh mba Titut pada diskusi minggu kemarin ada konsep perceived affordance dimana  pada akhirnya mau secanggih apapun teknologi yang ada, individu pada akhirnya akan memilih teknologi yang di anggap paling dapat memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itulah baik memilih ios ataupun android semua tergantung mengenai keprluan dan tujuan dari pengguna smartphone itu sendiri, karena menurut saya keduanya merupakan jenis teknologi yang berbeda.

                      

Advertisements

Dari Fans, Untuk Fans dan Oleh Fans

Beberapa bulan belakangan ini setiap kali saya berkumpul dengan saudara-saudara perempuan saya selalu ada satu topik yang menjadi pembahasan mereka yaitu “One Direction”. Jika anda tidak nengetahui apa atau siapa itu One Direction maka saya kan menjelaskan secara singkat, One direction merupakan sebuah boy band yang terdiri dari lima orang remaja laki-laki yang beasal dari Inggris. Seperti ciri khas boy band – boy band lainnya One Direction terdiri dari anggota dengan wajah-wajah tampan dan juga menyanyikan lagu pop bubble gum mengeni percintaan. Walaupun begitu tidak seperti boyband  lainnya,  One direction tidak mengikuti cycle kehidupan boyband pada umunya yang cenderung menikmati ketenaraan sesaat, mereka masih bertahan hingga sekarang ini. Tidak hanya One direction, boy band seperti BIGBANG, Super Junior ataupun The Wanted, sekarang ini cenderung memiliki life  span yang lebih panjang dibandingkan boy band-boy band sebelumnya. Bahka five years curse, yang merupakan keprcayaan bahwa setelah lima tahun maka boy band tersebut akan terpecah atau bubar, yang dipercayai oleh banyak fandom dari boy band akhir-akhir ini tidak berlaku lagi. Mengapa hal ini terjadi? Banyak dari fans-fans yang mungkin berkilah bahwa idola mereka berebda dengan idola-idola sebelumnya dan berbagai alasan lainnya, ya mungkin apa yang diungkapkan oleh fans tersebut ada benarnya. Namun menurut saya sendiri para fans tersebut harus berterimakasih dengan adanya convergence culture.

Convergence culture seperti yang diungkapkan oleh Henry Jenkins merupakan fenomena yang didefinisikan dimana pengambilan keputusan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan konten media  tidak hanya dilakukan oleh para pihak corporate namun para fans-fans juga turut serta memberikan keputusan.  Dalam convergence culture semua orang yang berada didalamnya melakukan partisipasi. Partisipasi itu sendiri pada dasarnya memilki tingkat keterlibatan yang lebih mendalam pada proses produksi ataupun distribusi konten media dibandingkan dengan dengan kegiatan interaktivitas. Kegiatan partisipasi itu sendiri terbagi kedalam beberapa tingakatan yang berbeda.

Lalau apa hubungan partisipasi dengan keberlangsungan ‘hidup’ sebuah boy band? Dapat dikatakan bahwa dalam convergence culture dengan dapat dilakukannya partisipasi maka akan menumbuhkan rasa loyalitas fans, yang tidak dapat dipungkiri memiliki peran krusial dalam mempertahankan keberlangsungan hidup sebuah franchise. Walaupun begitu partisipasi oleh konsumen saja tidaklah cukup, respond dari media itu sendiri mengenai partisipasi konsumen merupakan hal lain  yang memastikan keberalangsungan hidup franchise tersebut. Jika saya perhatikan sekarang ini pihak manajemen dari pada Boy Band seperti One direction atau BIGBANG cenderung termasuk kedalam collaborationist yang dimana mereka melihat bahwa fans merupakan pihak yang bisa diajak berkolaborasi dan memainkan peranan penting dalam produksi dan distribusi konten media itu sendiri. Sebagai contoh jika kita lihat sekarang ini manajemen dengan senang hati menyediakan wadah virtual tempat para fans bertemu atau yang dikenal dengan istilah ‘fan café’ dimana didalamnya semua berita, gossip, diskusi bahkan fanfiction yang berhubungan dengan si artis dapat diproduksi dan didistribusikan. Berbeda dengan boy band awal tahun 90’an seperti Nsync atau Backstreetboys yang cenderung bergantung kepada media massa saja dalam pendistribusian karya mereka dan cenderung menjadi puppet dari manajemen yang ada di belakang mereka.

Dapat kita simpulkan dari pembahasan minggu ini bahwa partisipasi dari konsumen merupakan suatu hal yang tidak dapat terelakan lagi dalam menjaga keberlangsungan hidup sebuah franchise, atau dalam kasus ini Boy band. Walaupun terdapat pro dan kontra dari partisipasi konsumen terhadap konten media, khusunya pada isu copyright yang cenderung membatasi kreativitas konsumen, namun  dengan adanya ketentuan fair use dari konten media itu sendiri, tidak menutup kemungkinan fans dan pihak media/industri dapat saliang menguntungkan bagi satu sama lain.

Refrensi:

http://henryjenkins.org/2006/06/welcome_to_convergence_culture.html

http://nmrs13.wordpress.com/2013/03/31/quentin-tarantinos-star-wars-fandom-and-convergence-culture-in-21st-century-media/

Fenomena Artis Dadakan à la Konvergensi Media

Satu minggu ini baik ketika saya membuka tayangan televisi, halaman youtube atau halman-halaman berita di web bahkan ketika saya sampai di kelas, baik dosen ataupun teman-teman saya hampir  semuanya membahas topik yang sama yaitu antara kejadian kecelakaan yang menimpa anak dari Maia dan Ahmad Dani atau fenomena Vikinisasi yang sedang menjadi tren dan di contoh oleh semua orang.

Ketika melihat kasus Viki, hal ini membuat saya kembali mengingat fenomena-fenomena artis dadakan yang beberapa tahun terakhir ini  jumlahnya dapat kita sebut terus meningkat tiap tahunnya. Salah satu kasus artis dadakan adalah  fenomena Shinta-Jojo yang terkenal dengan video lip-sync lagu dangdut Keong Racun nya yang dapat kita lihat melalui Youtube, yang akhirnya membuka jalan mereka menjadi “artis” yang dikenal oleh publik, walaupun dapat dibilang dalam jangka waktu yang cukup singkat, begitu juga dengan fenomena Briptu Norman yang memilki nasib yang sejenis. Jika Shinta-Jojo ataupun Briptu Norman berasal dari Youtube dan kemudian merambah ke media-media tradisional, berbeda dengan fenomen Arya Wiguna, Jeremy Tetti atau Vikinisasi, mereka berawal dari media tradisonal yang kemudian dengan adanya kreatifitas khalayak aktif, melahirkan sensasi pada dunia virtual.

Melalui fenomena ini dapat kita lihat bahwa para artis-artis dadakan ini harus berterima kasih dengan adanya konvergensi media. Seperti yang diungkapkan oleh Jenkins dalam Convergence Culture bahwa  konvergensi terjadi didalam otak tiap konsumer dan melalui interaksi yang dilakukan oleh sesama konsumen. Dimana sekarang ini dengan kemudahan mendapatkan dan mengumpulkan informasi, terjadi kecenderungan antara sesama konsumen untuk membicarakan  tentang kontten media yang telah di konsumsi.  Begitu juga dengan awal mula lahirnya artis-artis dadakan, sekarang ini konvergensi media melahirkan interaksi sosial yang dilakukan oleh para konsumen media baik secara langsung atau melalui beberapa platform media yang menyebabkan pendistribusian konten media menjadi lebih cepat dan dapat merambah participant dalam jumlah yang lebih besar, karena pada dasarnya proses distribusi konten media sudah menjadi kegiatan keseharian kita sekarang ini.

Refrensi:

Jenkins, Henry (2008). Convergence Culture: where old and new media collide. New York: New York University Press.

Konvergensi media: Sharing is Caring, right?

Ketika sedang mencari inspirasi untuk menyelesaikan tugas mata kuliah konvergensi media,  terpikirkan satu phrase yang mungkin dapat menjelaskan seperti apa konvergensi media itu sendiri, SHARING IS CARING. Menurut beberapa sumber yang saya baca, Sharing is Caring sendiri merupakan frasa yang digunakan untuk menggambarkan situasi dimana kita membagi apa yang kita punya/ketahui untuk orang lain yang kita pedulikan. Istilah sharing is caring ini dapat kita gunakan untuk melihat konvergensi media secara sederhana. Fenomena dimana kita dapat membagi satu konten media kedalam beberapa plartform sekaligus, merupakan tindakan nyata dimana kita seringkali membagi informasi/data yang kita miliki secara mudah dan dapat diakses oleh siapapun yang tertarik dengan informasi/data yang kita miliki. 

Baik secara kita sadari atau tidak kita telah melakukan konvergensi media disetiap harinya. Sebut saja salah satu tindakan yang yang saya lakukan ketika saya bangun pagi ini, setelah menonton sebuah video yang kemudian saya share kedalam beberapa social networking sites yang berbeda-beda diantaranya di Twitter, Tumblr dan Facebook.  Pada satu sisi saya menjadi seorang konsumen konten media, namun disisi lain saya telah menjadi seorang produsen dari konten media itu sendiri. Pembauran definisi konsumen dan produsen inilah salah satu fenomena unik dari lahirnya konvergensi media. Fenomena sharing is caring pada konvergensi media juga dapat kita sambungkan dengan beberapa SNS yang memiliki feature diamana kita dapat membagi musik yang kita dengarkan, buku yang kita baca dan bahkan kita bisa share melalui link  dimana kita memperoleh buku/musik tersebut, sehingga dengan mudahnya pihak yang melihat dan ingin memperoleh lagu atau buku tersebut dapat menemukannya.

Realitas bahwa sekarang ini sangat mudah untuk mengakses berbagi informasi atuaupun data, merupakan sisi postif dari adanya konvergensi media. Contoh yang paling nyata adalah bagaimana saya sebagi seorang fangirl, dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai platform yang berbeda-beda hanya dengan mengakses Twitter terlebih dahulu. Dengan mengakses Twitter saya dapat menemukan video yotube, halaman web yang memiliki informasi yang saya cari bahkan link untuk mendapatkan baik lagu/buku/film (baik secara legal maupun ilegal). Tidak hanya fans-fans saja yang mendapatkan keuntungan, baik disadari atau tidak dengan gencarnya terjadi proses saling sharing antar fans ini sudah merupakan sebuah bentuk promosi secara gratis, sehingga tidak mengherankan bahwa sekarang ini internet memiliki peran yang sangat besar sebagi media untuk  melakukan promosi (baik yang terencanakan ataupun tidak). After all, sharing is caring right?