Click here to save the world

Minggu lalu materi yang dibahas cenderung mengarah keada sisi gelap dari internet, berbeda dengan minggu  ini kita akan membahas mengenai sisi lain dari internet, yaitu dimana internet bisa membawa sebuah perubahaan. Apakah anda familier dengan istilah slacktivist atau clicktivist ? kedua istilah tersebut merupakan istilah yang lahir pada tahun 90-an, kata slacktivist itu sendiri merupakan sebuah istilah yang terdiri dari dua kata yaitu kata “slacker” – yang dalam bahasa indonesia diartikan sebagi pemalas- dan “activist“. Pada dasarnya istilah ini digunakan untuk menggambarkan fenomena dimana sekarang ini kegiatan aktifis (yang biasanya berada diseputar kegiatan demo dsb) sekarang ini mengalami perubahan, yang memungkinkan kita melakukan semua itu hanya dalam satu klik saja. Sebagai contohnya ketika anda pernah menandatangani petisi yang ada di internet, mengubah status pada social networking sites anda dengan pesan-pesan yang berhubungan dengan sebuah movement atau merubah avatar social networking sites anda dengan gambar atau logo tertentu sebagi bentuk rasa setuju anda pada sebuah movement , jika jawabannya YA, maka anda merupakan termasuk kedalam golongan slacktivist / clicktivist ini. 

Pada dasarnya banyak pro dan kontra dari slacktivist/clicktivist ini sendiri, ada yang berkata bahwa kegiatan itu tidak berarti apa-apa dan cenderung sia-sia untuk dilakukan karena tidak akan memberikan solusi, ada pula yang berkata bahwa kegiatan ini memiliki impact yang cukup kuat. Saya sendiri merupakan pihak yang percaya bahwa kegiatan yang dilakukan oleh slacktivist/clicktivist ini sebenarnya memang tidak akan memberikan solusi konkrit, layaknya perubahn UU atau apapun itu, namu setelah membaca postingan dari blog ini saya menyadari bahwa fungsi dari kegiatan yang dilakukan oleh slacktivist itu sendiri lebih mengarah kepada meningkatkan awareness orang-orang mengenai kasus ini. Dengan melakukan re-tweet, post status atau mengganti avatar kita, walaupun apa yang kita lakukan tidak berimpact secara langsung, setidaknya minimal 10-20 teman kita pada social networking sites telah membaca atau menyadari bahwa kasus ini ada di dunia, dan mungkin ia akan membatu menyebarkan ke pihak yang lebih banyak, sehingga mungkin saja suatu saat hal yang berawal dari dunia digital ini bisa diubah kedalam aksi konkrit yang benar-benar akan mengubah dunia 🙂

 

Image

Advertisements

The Dark Side of The Internet

Image

Jika minggu-minggu sebelumnya diskusi dikelas cenderung lebih membahas mengenai sisi positif dari internet minggu ini diskusi yang dilakukan sangat berbeda dari sebelumhya. Minggu ini kita melihat mengenai bagaimana interenet memiliki sisi gelap yang terkadang kita sebagi pengguna nya tidak sadar mengenai hal tersebut. Salah satu hal yang menjadi concern saya dalam menghadapi isu sisi gelap internet adalah mengenai Privasi. Bagaimana kegiatan kita setiap hari pada social networking sites, search engines ataupun kegitan online shopping dapat dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk memenuhi kebutuhannya  tersendiri.

Salah satu contoh hal sederhana adalah bagaimana sistem pengiklanan di internet sekarang ini memiliki teknologi khusus yang merekam profil pola penggunaan internet kita dan dapat dimanfaatkan untuk pemasangan iklan yang disesuaikan dengan hal-hal yang biasa kita buka. Walupun terlihat sederhana, namun sejak sebelum saya mempelajari mengenai ini saya sendiri sudah sangat sadar akan kecenderungan ini, bagaimana pola kegiatan kita dalam internet digunakan oleh pihak-pihak tertentuk, tanpa kita sadari. Dari hasil survey yang dilakukan oleh sileo.com kepada para online consumer , 85% persen dari konsumen menyatakan bahwa pola kegiatan internet mereka digunakan untuk keperluan pengiklanan dan mereka tidak menyatakan keberatan mengenai hal tersebut. Fakta ini menurut saya sangat mengejutkan, karena saya sendiri merasa cukup khawatir mengenai fenomena ini, karena bayangkan saja jika ini terjadi dalam kehidupan nyata ada seseorang yang kita tidak kenal  memperhatikan pola kegiatan kita sehari-hari dan tiba-tiba datang di depan pintu  dengan barang-barang yang menurutnya sesuai dengan selera kita…..bukan kah cukup menyeramkan?

Selain isu pengiklanan, salah satu kasus yang menarik lagi adalah kasus-kasus yang melibatkan social networking sites (SNS). Tidak dapat dipungkiri lagi SNS merupakan suatu hal yang sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Namun hal yang menghawatirkan adalah bagaimana SNS dapat menjadi media yang menyebabkan kita menjadi seorang korban kejahatan. Beberapa contoh kasus dari cyber crime di Indonesia sendiri dapat kita lihat dalam video ini. Bukan hanya kasus-kasus seperti pada video itu saja, namun kasus cyber bullying juga merupakan salah satu bentuk konsekuensi yang harus dihadapai oleh sebagian orang dengan menggunakan SNS itu sendiri.

Dari beberapa penjabaran diatas dapat kita lihat, bagaimana internet memiliki sisi gelap dibalik segala kecanggihanya yang memudahkan kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itulah slah satu hal yang saya pelajari sadarkan adalah bahwa dalam menggunakan internet kita harus berpikir secraa jernih, karena pada dasarnya apapun yang kita lakukan dapat terekam dan diketahui oleh banyak orang 🙂

 

* Gambar yang saya gunakan dalam postingan ini bukan merupakan milik saya sendiri

Tentang Parody Video Clip One Direction…

Topik mengenai One Direction mungkin adalah salah satu meteri yang paling sering saya bahas selama menulis blog ini, namun untuk materi remix ini menurut saya One direction dapat dibilang merupakan saah satu ‘korban’ dari booming nya tren remix ini. Seperti layaknya video yang di tayangkan oleh mbak titut pada kelas kita mengenai bagaiman remix parody mengenai edward cullen dapat mendistorsi presepsi kita mengenai edward cullen itu sendiri, image mengenai Edward Cullen yang dibangun melalui serial Twilight menjadi sangat berlawanan dengan apa yang ditayangkan dalam video ini. Begitu juga dengan video parody video clip One Direction yang diunggah di situs Youtube, salah satu video parody yang cukup ‘menggangu’ menurut saya, bagaimana melalui video lagu mengenai memuji kecantikan wanita diubah menjadi lagu mengenai stereotype mengenai Boyband pada umunya.

Hal ini mengingatkan saya mengenai materi bagaiman remix itu sendiri digunakan sebagai cultural jamming yang berusaha mengintervensi teks dominan. Dari kasus ini sendiri saya melihat bagaimana video parody ini berusaha mengkritik mengenai lirik lagu one direction dan keberadaan one direction secra keseluruhan, dimana mereka mengganggap lirik one direction cenderung hipokrit dan one direction itu sendiri merupakan sebuah komoditas bagi industri musik. Dari contoh inilah dapat kit alihat bagaiman remix parody itu sendiri tidak selalu hanya sekedar lelucon saja, namun bisa menjadi sebuah bentuk kritik terhadap realitas yang ada. 

Fenomena Sesame Street

 

 

Image

Sesame Street mungkin merupakan salah satu acara legenda bagi anak-anak pada umumnya. Karakter-karakter seperi Big Bird, Elmo, Cookie Monster merupakan segelintir karakter yang tidak hanya digemari oleh anak kecil namun orang dewasa pun masih menggemari nya. Acara yang pertama kali disiarkan pada 10 November tahun 1969 ini masih bertahan sampai sekarang. Pada dasarnya sesame street  merupakan sebuah muppet show pada saluran TV Amerika PBS, yang diperuntungkan untuk mendidik dan menumbuhkan kreativitas anak-anak. Sampai sekarang Sesame Street masih termasuk kedala acara anak dengan rating yang cukup tinggi.

 

Setelah mendapatkan tingkat kesuksesaan melalui serial televisi yang cukup tinggi, sesame street melakukan proses transmedia storytelling, dimana tidak hanya melalui serial televisinya, tapi fans-fans dari acara sesame street juga bisa menikmati cerita sesame street melalui buku cerita dan DVD. Bahkan untuk para fans dari sesame street yang sudah lebih dewasa tersedia games yang dapat dimainkan di berbagi platform. Selain DVD, cerita dan video games salah satu produk yang menurut saya paling sukses dari franchise sesame street sendiri adalah merchandise sesame street itu sendiri (seperti kostum, baju tas dan lain-lainya), dimana orang yang menggunakan ataupun mengoleksinya tidak terbatas oleh umur tertentu saja. Kesuksesan transmedia storytelling dari franchise sesame street menghasilkan berbagai versi internasional  dari sesame street itu sendiri, dimana konten dari acara televisi sesame street pada dasarnya masih sama seperti yang ditayangkan di Amerika dengan menggunakan Muppet dan bertujuan untuk mengedukasi, namun sudah ditambahkan dengan konten lokal dari berbagai negara itu sendri. Dari hasil pemantauan saya kurang lebih terdapat 20 Versi glokalisasi dari Sesame street itu sendiri.

 

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang melakukan lokalisasi pada acara Sesame street itu sendiri. Di Indonesia bentuk lokalisasi dari Sesame Street diberi judul Jalan Sesama, yang dimana pada dasarnya memiliki program dan konten yang sama pada Sesame Street di Amerika. Jalan Sesama sendiri mengadopsi beberapa tokoh muppet utama dari Sesame Street itu sendiri seperti elmo dan big bird, namun guna menyesuaikan dengan budaya Indonesia karakter muppet seperti Momon (seorang anak laki-laki), Putri (seorang anak perempuan), Tantan (orang utan) dan Jabrik (badak bayi) menjadi tokoh utamanya. Hal ini memperlihatkan bahwa sudah terjadi proses glokalisasi dari franchise sesame street di Indonesia, dimana selain karakter yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari Indonsia, setting dan alur cerita serta nilai-nilai yang ditampilkan dan diajarkan pun disesuaikan untuk anak-anak Indonesia.

 

Menurut saya fenomena franchise Sesame Street ini sangatlah menarik dimana proses transmedia storytelling dapat dibilang menjadi salah satu faktor yang mendukung lama dari hidupnya franchise itu sendiri. Selain itu proses glokalisasi dari sesame street di berbagai negara juga menjadi faktor lain juga yang mendukung bertahnnya franchise ini hingga 34 tahun lamanya.

 

 

Refrensi:

http://www.jalansesama.or.id/ (Diakses pada 22 Oktober 2013)

http://www.sesamestreet.org/ (Diakses pada 22 Oktober 2013)

http://en.wikipedia.org/wiki/Sesame_Street (Diakses pada 22 Oktober 2013)

 

Notes:

Gambar yang saya muat dalam artikel bukan milik saya/

 

 

Budaya menggunakan Social Networking Sites

Membahas mengenai materi  minggu ini, mengingatkan saya pada pengalaman exchange  yang saya lakukan pada musim panas setahun yang lalu, ketika itu saya memutuskan untuk mengahabiskan kurang lebih sebulan lamanya menjadi guru bahasa inggris sekolah dasar di negara China. Hal pertama yang saya pikirkan sebelum saya pergi adalah fakta bahwa saya akan menghabiskan waktu saya selama sebulan denga tidak dapat mengakses Social Networking Sites yang tiap harinya selalu saya gunakan, tidak ada Twitter, facebook ataupun Youtube, bayangan saya sebelum pergi adalah bahwa saya akan dikirim ke sebuah negara dengan pemerintahan otoriter yang memebatasi gerak-gerik setiap masyarakatnya, hingga penggunaan hal yang sudah taken for granted bagi saya dalam sehari-harinya menjadi suatu hal yang terlarang.

Ketika saya sampai di Beijing, China saya bertemu dan bergaul dengan remaja dari berbagai belahan dunia, tidak hanya remaja China saja. Hal unik yang saya perhatikan dari tiga hari pertama saya sampai di China adalah bagaimana remaja-remaja dari negara-negara Asia (selain China) seperti mengalami kepanikan kecil karena tidak dapat mengakases Twitter maupun Facebook, hingga akhirnya kami sharing sebuah software yang dibawa oleh salah seorang exchange participant yang memungkinkan kami dapat mengakses facebook ataupun Twitter (walaupun terkadang tidak berfungsi). Hal ini membuktikan bahwa pada dasarnya masyarakat selalu memiliki strategi dan cara-cara tersendiri untuk melawan batasan-batasan ruang media yang dibuat oleh pemerintah sekalipun.

Ketika kami (para exchange participant) mediskusikan mengenai perihal ini dengan remaja-remaja China yang menemani kami selama berada disana, mereka cenderung tidak merasa terkekang ataupun terbatasi, karena pada dasarnya mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Ketika saya tanya SNS apa yang biasa mereka gunakan dalam keseharianya, nama-nama seprti Weibo dan QQ pun keluar (bahkan salah satu murid saya ada yang merasa heran ketika dia mengetahui bahwa saya tidak menggunakan QQ ataupun Weibo). Hal ini membuktikan pada dasarnya budaya penggunaan SNS tiap-tiap masyarakat berbeda-beda, menurut saya sendiri perbedaan ini bergantung pada keperluan dan ketersediaan fasilitas dari pada masyarakat masing-masing.

Pentingnya Literasi Digital untuk Remaja

Topik minggu postingan minggu ini seperti yang sudah disepakati di kelas cenderung lebih dikonsentrasi kan kepada topik kredibilitas dan digital literacy. Oleh karena itulah ketika saya sedang mencari inspirasi untuk menulis menganai materi ini saya ‘menemukan’ sebuah makalah dengan judul “The special case of youth and Digital information credibility“, yang menurut saya sangat menarik untuk dijadikan topik minggu ini, sehingga saya memutuskan untuk berkonsentrasi membahas mengenai kredibiltas informasi melalui media digital dan remaja.

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa generasi muda sekarang ini dapat kita bilang memiliki tingkat ketergantungan terhadap media digital yang lebih tinggi dibandingkan sebelum-sebelumnya. Dapat kita lihat bagaimana pada kehidupan keseharian remaja dan  telfon genggam merupakan suatau hal yang tidak terpisahkan. Hal ini disebabkan media digital dapat dilihat merupakan penyokong informasi yang utama bagi remaja sekarang ini, dimana melalu media digital para remaja dapat mencari informasi yang sangat beragam, dimana saja dan kapan saja (tentu dengan syarat memiliki koneksi internet >.<). 

Walaupun remaja sekarang ini memiliki kemudahaan dan keberagaman sumber informasi yang jauh lebih besar dibandingkan genarasi-genarasi sebelumnya, ternyata tidak sepenuhnya berefek positif. Salah satu yang banyak menjadi perhatian adalah kemampuan remaja untuk menyaring atau  memilah-milih informasi yang diterimanya. Remaja pada umumnya dilihat sebagi pihak yang masih dalam tahap perkembangan skill kognitif  ataupun emosional, begitu juga dengan pengalaman hidupnya yang belum terlalu banyak (Folk & Apostel, 2013) sehingga mereka belum dilihat sebagai pihak yang bisa mengkirtisasi sebuah informasi yang diterimanya, oleh karena itula mereka dilihat  belum bisa menentukan mana sumber informasi yang kredibel dan mana yang bukan. Hal ini ditakutkan akan menyebabkan remaja mengkonsumsi secara mentah-mentah informasi yang diberikan oleh media digital, yang dimana sudah kita ketahui bahwa media digital memungkinkan siapapun untuk menjadi produsen berita, tanpa harus memiliki kemampuan atau kredibilitas tertentu layaknya media tradisonal. 

Oleh karena itulah saya melihat bahwa literasi digital merupakan suatu hal yang penting untuk dikuasi oleh remaja kita sekarang ini, mengingat sulitnya bagi kita untuk melarang atau membatasi penggunaan media digital pada remaja. Dengan adanya literasi digital remaja dapat  memiliki ‘landasan’ ilmu dalam menggunakan media digital, sehingga penggunaan media digital dapat dilakukan dengan maksimal 🙂 

 

Refrensi:

Folk, Moe & Apostel, Shawn. (2013). “Online Credibility and Digital Ethos: Evaluating Computer-Mediated Communication“. IGI Global:USA