Budaya menggunakan Social Networking Sites

Membahas mengenai materi  minggu ini, mengingatkan saya pada pengalaman exchange  yang saya lakukan pada musim panas setahun yang lalu, ketika itu saya memutuskan untuk mengahabiskan kurang lebih sebulan lamanya menjadi guru bahasa inggris sekolah dasar di negara China. Hal pertama yang saya pikirkan sebelum saya pergi adalah fakta bahwa saya akan menghabiskan waktu saya selama sebulan denga tidak dapat mengakses Social Networking Sites yang tiap harinya selalu saya gunakan, tidak ada Twitter, facebook ataupun Youtube, bayangan saya sebelum pergi adalah bahwa saya akan dikirim ke sebuah negara dengan pemerintahan otoriter yang memebatasi gerak-gerik setiap masyarakatnya, hingga penggunaan hal yang sudah taken for granted bagi saya dalam sehari-harinya menjadi suatu hal yang terlarang.

Ketika saya sampai di Beijing, China saya bertemu dan bergaul dengan remaja dari berbagai belahan dunia, tidak hanya remaja China saja. Hal unik yang saya perhatikan dari tiga hari pertama saya sampai di China adalah bagaimana remaja-remaja dari negara-negara Asia (selain China) seperti mengalami kepanikan kecil karena tidak dapat mengakases Twitter maupun Facebook, hingga akhirnya kami sharing sebuah software yang dibawa oleh salah seorang exchange participant yang memungkinkan kami dapat mengakses facebook ataupun Twitter (walaupun terkadang tidak berfungsi). Hal ini membuktikan bahwa pada dasarnya masyarakat selalu memiliki strategi dan cara-cara tersendiri untuk melawan batasan-batasan ruang media yang dibuat oleh pemerintah sekalipun.

Ketika kami (para exchange participant) mediskusikan mengenai perihal ini dengan remaja-remaja China yang menemani kami selama berada disana, mereka cenderung tidak merasa terkekang ataupun terbatasi, karena pada dasarnya mereka sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini. Ketika saya tanya SNS apa yang biasa mereka gunakan dalam keseharianya, nama-nama seprti Weibo dan QQ pun keluar (bahkan salah satu murid saya ada yang merasa heran ketika dia mengetahui bahwa saya tidak menggunakan QQ ataupun Weibo). Hal ini membuktikan pada dasarnya budaya penggunaan SNS tiap-tiap masyarakat berbeda-beda, menurut saya sendiri perbedaan ini bergantung pada keperluan dan ketersediaan fasilitas dari pada masyarakat masing-masing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s