Dari Fans, Untuk Fans dan Oleh Fans

Beberapa bulan belakangan ini setiap kali saya berkumpul dengan saudara-saudara perempuan saya selalu ada satu topik yang menjadi pembahasan mereka yaitu “One Direction”. Jika anda tidak nengetahui apa atau siapa itu One Direction maka saya kan menjelaskan secara singkat, One direction merupakan sebuah boy band yang terdiri dari lima orang remaja laki-laki yang beasal dari Inggris. Seperti ciri khas boy band – boy band lainnya One Direction terdiri dari anggota dengan wajah-wajah tampan dan juga menyanyikan lagu pop bubble gum mengeni percintaan. Walaupun begitu tidak seperti boyband  lainnya,  One direction tidak mengikuti cycle kehidupan boyband pada umunya yang cenderung menikmati ketenaraan sesaat, mereka masih bertahan hingga sekarang ini. Tidak hanya One direction, boy band seperti BIGBANG, Super Junior ataupun The Wanted, sekarang ini cenderung memiliki life  span yang lebih panjang dibandingkan boy band-boy band sebelumnya. Bahka five years curse, yang merupakan keprcayaan bahwa setelah lima tahun maka boy band tersebut akan terpecah atau bubar, yang dipercayai oleh banyak fandom dari boy band akhir-akhir ini tidak berlaku lagi. Mengapa hal ini terjadi? Banyak dari fans-fans yang mungkin berkilah bahwa idola mereka berebda dengan idola-idola sebelumnya dan berbagai alasan lainnya, ya mungkin apa yang diungkapkan oleh fans tersebut ada benarnya. Namun menurut saya sendiri para fans tersebut harus berterimakasih dengan adanya convergence culture.

Convergence culture seperti yang diungkapkan oleh Henry Jenkins merupakan fenomena yang didefinisikan dimana pengambilan keputusan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan konten media  tidak hanya dilakukan oleh para pihak corporate namun para fans-fans juga turut serta memberikan keputusan.  Dalam convergence culture semua orang yang berada didalamnya melakukan partisipasi. Partisipasi itu sendiri pada dasarnya memilki tingkat keterlibatan yang lebih mendalam pada proses produksi ataupun distribusi konten media dibandingkan dengan dengan kegiatan interaktivitas. Kegiatan partisipasi itu sendiri terbagi kedalam beberapa tingakatan yang berbeda.

Lalau apa hubungan partisipasi dengan keberlangsungan ‘hidup’ sebuah boy band? Dapat dikatakan bahwa dalam convergence culture dengan dapat dilakukannya partisipasi maka akan menumbuhkan rasa loyalitas fans, yang tidak dapat dipungkiri memiliki peran krusial dalam mempertahankan keberlangsungan hidup sebuah franchise. Walaupun begitu partisipasi oleh konsumen saja tidaklah cukup, respond dari media itu sendiri mengenai partisipasi konsumen merupakan hal lain  yang memastikan keberalangsungan hidup franchise tersebut. Jika saya perhatikan sekarang ini pihak manajemen dari pada Boy Band seperti One direction atau BIGBANG cenderung termasuk kedalam collaborationist yang dimana mereka melihat bahwa fans merupakan pihak yang bisa diajak berkolaborasi dan memainkan peranan penting dalam produksi dan distribusi konten media itu sendiri. Sebagai contoh jika kita lihat sekarang ini manajemen dengan senang hati menyediakan wadah virtual tempat para fans bertemu atau yang dikenal dengan istilah ‘fan café’ dimana didalamnya semua berita, gossip, diskusi bahkan fanfiction yang berhubungan dengan si artis dapat diproduksi dan didistribusikan. Berbeda dengan boy band awal tahun 90’an seperti Nsync atau Backstreetboys yang cenderung bergantung kepada media massa saja dalam pendistribusian karya mereka dan cenderung menjadi puppet dari manajemen yang ada di belakang mereka.

Dapat kita simpulkan dari pembahasan minggu ini bahwa partisipasi dari konsumen merupakan suatu hal yang tidak dapat terelakan lagi dalam menjaga keberlangsungan hidup sebuah franchise, atau dalam kasus ini Boy band. Walaupun terdapat pro dan kontra dari partisipasi konsumen terhadap konten media, khusunya pada isu copyright yang cenderung membatasi kreativitas konsumen, namun  dengan adanya ketentuan fair use dari konten media itu sendiri, tidak menutup kemungkinan fans dan pihak media/industri dapat saliang menguntungkan bagi satu sama lain.

Refrensi:

http://henryjenkins.org/2006/06/welcome_to_convergence_culture.html

http://nmrs13.wordpress.com/2013/03/31/quentin-tarantinos-star-wars-fandom-and-convergence-culture-in-21st-century-media/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s