Fenomena Artis Dadakan à la Konvergensi Media

Satu minggu ini baik ketika saya membuka tayangan televisi, halaman youtube atau halman-halaman berita di web bahkan ketika saya sampai di kelas, baik dosen ataupun teman-teman saya hampir  semuanya membahas topik yang sama yaitu antara kejadian kecelakaan yang menimpa anak dari Maia dan Ahmad Dani atau fenomena Vikinisasi yang sedang menjadi tren dan di contoh oleh semua orang.

Ketika melihat kasus Viki, hal ini membuat saya kembali mengingat fenomena-fenomena artis dadakan yang beberapa tahun terakhir ini  jumlahnya dapat kita sebut terus meningkat tiap tahunnya. Salah satu kasus artis dadakan adalah  fenomena Shinta-Jojo yang terkenal dengan video lip-sync lagu dangdut Keong Racun nya yang dapat kita lihat melalui Youtube, yang akhirnya membuka jalan mereka menjadi “artis” yang dikenal oleh publik, walaupun dapat dibilang dalam jangka waktu yang cukup singkat, begitu juga dengan fenomena Briptu Norman yang memilki nasib yang sejenis. Jika Shinta-Jojo ataupun Briptu Norman berasal dari Youtube dan kemudian merambah ke media-media tradisional, berbeda dengan fenomen Arya Wiguna, Jeremy Tetti atau Vikinisasi, mereka berawal dari media tradisonal yang kemudian dengan adanya kreatifitas khalayak aktif, melahirkan sensasi pada dunia virtual.

Melalui fenomena ini dapat kita lihat bahwa para artis-artis dadakan ini harus berterima kasih dengan adanya konvergensi media. Seperti yang diungkapkan oleh Jenkins dalam Convergence Culture bahwa  konvergensi terjadi didalam otak tiap konsumer dan melalui interaksi yang dilakukan oleh sesama konsumen. Dimana sekarang ini dengan kemudahan mendapatkan dan mengumpulkan informasi, terjadi kecenderungan antara sesama konsumen untuk membicarakan  tentang kontten media yang telah di konsumsi.  Begitu juga dengan awal mula lahirnya artis-artis dadakan, sekarang ini konvergensi media melahirkan interaksi sosial yang dilakukan oleh para konsumen media baik secara langsung atau melalui beberapa platform media yang menyebabkan pendistribusian konten media menjadi lebih cepat dan dapat merambah participant dalam jumlah yang lebih besar, karena pada dasarnya proses distribusi konten media sudah menjadi kegiatan keseharian kita sekarang ini.

Refrensi:

Jenkins, Henry (2008). Convergence Culture: where old and new media collide. New York: New York University Press.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s